Pemikiran Pendidikan Islam: Muhammad Abduh
Makalah ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Filsafat Pendidikan Islam
Dosen Pembimbing : Dr. Toto Suharto, M.Ag.
Disusun Oleh:
Burhanuddin S (133111174)
Ahmad Sulaiman (1331111 )
Wahyu Bakti N (1331111 )
PROGAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
SURAKARTA
2014
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Dalam catatan sejarah,
eksistensi pendidikan Islam telah ada sejak Islam pertama kali diturunkan. Ketika Rasulullah SAW mendapat perintah dari Allah untuk menyebarkan ajaran Islam, maka apa yang
dilakukan adalah masuk dalam kategori pendidikan. Karena kepribadian Rasulullah SAW mencerminkan wujud ideal Islam, seorang guru dan pendidik.
Kemudian sejak masa
sahabat, tabi’in dan generasi selanjutnya pada masa pendahulu, masa keemasan
Islam dan masa pembaharuan banyak bermunculan berbagai pemikiran
pendidikan Islam, hal ini salah satunya
ditandai dengan banyaknya ulama–ulama Islam yang
menulis tentang buku pendidikan dan pengajaran secara mendalam.
Pemikiran pendidikan
Islam adalah serangkaian proses kerja akal dan kalbu secara bersungguh-sungguh
dalam melihat berbagai persoalan yang ada dalam pendidikan Islam.
Muhammad ‘Abduh adalah
tokoh pembaharu yang tidak asing lagi, dunia Islam dan Barat mengakuinya,
bahkan pandangannya sering dijadikan
rujukan dalam pembahasan ke-Islaman. Ia dilahirkan dalam situasi, dimana dunia
Barat gencar-gencarnya melakukan kegiatan ekspansi ke daerah-daerah Islam,
termasuk Mesir. Pada masa Muhammad ‘Abduh itu, ada dua golongan ekstrim: mempertahankan tradisi Arab-Islam; dan mengadakan pembaharuan yang murni merujuk pada
Barat, sehingga nyaris melupakan nilai-nilai Timur dan Islam.
Muhammad ‘Abduh
termotivasi untuk ikut memberikan respons dan mengadakan perbaikan di berbagai bidang, terutama pendidikan. Pendidikan bagi Muhammad ‘Abduh sangatlah penting, sampai-sampai ia memposisikan gurunya lebih "mulia" dari orang tuanya.
Beliau pernah berucap, "Orang
tuaku memberikan aku dua orang teman (saudara) hidup: Ali dan Mahrus. Sedangkan guruku Jamaluddin al-Afghani memberikan
"teman" hidup: Muhammad SAW., Ibrahim, Musa, Isa, para wali, dan
orang-orang suci."
B. Riwayat Hidup Muhammad ‘Abduh
Nama lengkapnya adalah
Muhammad ‘Abduh Hasan Khairullah. Tokoh ini akrab dipanggil dengan sebutan
muhammad abduh. Ia dilahirkan di sebuah kampung bernama Mahallat Nasr, Syubra
Khit, provinsi Al-Bahirah, Mesir pada tahun 1266 H (1849). Ayahnya berasal dari
Turki yang telah lama tinggal di Mesir, sedangkan ibunya adalah orang Arab,
yang menurut riwayat, silsilah ibunya sampai pada Umar bin Khattab ra.[1]
Pendidikan Muhammad
‘Abduh di mulai dengan belajar menulis dan membaca di rumah.Setelah beliau hapal kitab suci Al-qur’an pada tahun 1863 ayahnya mengirimnya ke
Thamta untuk meluruskan bacaan dan tajwid di masjid al-Ahmadi. Namun karena metode pelajaran tidak sesuai yang diberikan gurunya
seperti membiasakan menghapal istilah nahwu atau fiqh akhirnya Muhammad ‘Abduh
kembali ke Mahallat Nasr dengan tekad tidak akan kembali lagi belajar. Tentang pengalamannya ini ‘Abduh menceritakan: “Satu setengah tahun saya
belajar di mesjid Syeikh Ahmad dengan tak mengerti suatu apapun. Ini adalah
karena metodenya yang salah. Guru-guru mulai mengajak kita untuk
menghapal istilah-istilah tentang nahwu dan fiqh yang tak kita ketahui artinya,
guru tak merasa penting apa kita meengetahui atau tidak mengerti
istilah-istilah itu.” Inilah salah satu yang melatarbelakangi ‘Abduh ingin mengadakan pembaruan dalam bidang
pendidikan.
Sayyid Qutub
mengambarkan situasi dan kondisi masyarakat tempat Muhammad ‘Abduh hidup
sebagai masyarakat yang kaku, beku, menutup rapat-rapat pintu ijtihad serta
mengabaikan peranan akal dalam memahami syari'at. Sementara, di Eropa khususnya, kehidupan masyarakat sangat mendewakan akal, terlebih setelah penemuan-penemuan ilmiah yang sangat mengagumkan ketika itu.
Tahun 1866 ‘Abduh
meninggalkan isteri dan keluarganya menuju Kairo untuk belajar di Al-Azhar.
Tiga tahun kemudian, ketika Jamaluddin
al-Afghani datang ke Mesir tahun 1871 M, Muhammad ‘Abduh giat belajar dan mendengar segala ide pembaharuan darinya. ‘Abduh mulai memperluas studinya sampai meliputi ilmu filsafat dan ilmu sosial serta politik. Afghani adalah seseorang yang aktif memberikan
dorongan kepada murid-murid untuk menghadapi intervensi Eropa di negeri mereka
dan pentingnya melihat umat Islam sebagai umat yang satu. ‘Abduh memutar jalur
hidupnya dari tasawuf yang bersifat pantang dunia , lalu memasuki dunia
aktivisme sosio-politik.
‘Abduh
menyelesaikan studinya pada tahun 1877, dan mengajar pertama kali di Al-Azhar.
Puncak karir Muhammad ‘Abduh dalam pembaharuannya, terutama di bidang
pendidikan adalah ketika ia ditugaskan menjadi seorang mufti pertama Mesir.
Posisi ini diperolehnya pada 03 Juni 1899 M.
Beliau meninggal pada tanggal 11 Juli 1905. Banyaknya orang yang memberikan
hormat di Kairo dan Alexandria, membuktikan betapa besar penghormatan orang kepada dirinya.
Meskipun ‘Abduh mendapat serangan sengit karena pandangan dan tindakannya yang
reformatif, namun Mesir dan Islam merasa
kehilangan atas meninggalnya seorang pemimpin yang terkenal lemah lembut dan
mendalam spiritualnya.
BAB II
PEMBAHASAN
KONSEP PENDIDIKAN ISLAM MUHAMMAD ‘ABDUH
Mayoritas peneliti
sepakat bahwa Muhamamd Abduh adalah seorang reformis atau pembaharu pendidikan Islam. Sebagai seorang reformis, Muhammad ‘Abduh memandang bahwa pendidikan
merupakan elemen penting bagi masyarakat Islam untuk kembali mendapatkan
martabat yang telah lama hilang. Muhammad ‘Abduh ingin berperan di dalam kebangkitan peradaban umat yang
tengah dihantam oleh badai keterbelakangan. Ia melihat bahwa jalan menuju itu adalah “pendidikan”, tetapi bukan setiap
pendidikan, melainkan pendidikan yang berasaskan referensi keagamaan Islam.
A. Latar belakang pemikiran pendidikan Islam Muhammad
‘Abduh
1. Kemunduran Islam
Muhammad ‘Abduh berpandangan bahwa penyakit yang melanda
negara-negara Islam adalah adanya kerancuan pemikiran agama di kalangan umat
Islam sebagai konsekuensi datangnya peradaban Barat dan adanya tuntutan dunia
Islam modern. Selama beberapa abad di masa silam, kaum Muslimin telah
menghadapi kemunduran dan umat Islam tidak mendapatkan dirinya siap sedia untuk menghadapi situasi yang kritis ini.
Menurutnya, yang membawa kemunduran
umat Islam adalah bukan karena ajaran Islam itu sendiri, melainkan adanya sikap
jumud di tubuh umat Islam. Jumud yaitu keadaan membeku/statis,
sehingga umat tidak mau menerima perubahan, yang dengannya membawa bibit kepada kemunduran umat saat ini (al-Jumud
‘illatun tazawwul). Seperti dikemukakan ‘Abduh dalam al-Islam baina
al-’Ilm wa al-Madaniyyah, ia menerangkan bahwa sikap jumud dibawa ke
tubuh Islam oleh orang-orang yang bukan Arab, yang merampas puncak kekuasaan
politik di dunia Islam. Mereka juga membawa faham animisme, tidak mementingkan
pemakaian akal, jahil dan tidak kenal ilmu pengetahuan. Rakyat harus dibutakan
dalam hal ilmu pengetahuan agar tetap bodoh dan tunduk pada pemerintah. Keadaan seperti ini, menurutnya adalah bid’ah. Masuknya bid’ah ke dalam tubuh Islam-lah yang
membawa umat lepas dari ajaran Islam yang sesungguhnya. Untuk menyelesaikan
masalah ini, ‘Abduh, sebagaimana Abdul Wahhab, berusaha mengembalikan umat
seperti pada masa salaf, yaitu di zaman sahabat dan ulama-ulama besar.
Namun, yang membedakan faham ‘Abduh dengan Abdul Wahhab adalah umat tidak cukup
hanya kembali kepada ajaran-ajaran asli itu saja, tetapi ajaran-ajaran itu juga
mesti disesuaikan dengan keadaan modern sekarang ini.
2. Orientasi pembaharuan pendidikan ala Barat
Kontak kebudayaan antara Mesir dan kebudayaan yang dibawa oleh Napoleon
Bonaparte menimbulkan kesadaraan umat Islam bahwa mereka telah tertinggal jauh
dari Eropa. Kesadaran ini menimbulkan berbagai pergerakan pembaharuan dari kalangan umat Islam, salah satu pelopornya
adalah Muhammad Ali Pasya.
Setelah Muhammad Ali menjadi penguasa tunggal di Mesir, ia tidak mengalami
kesukaran dalam merealisasikan konsep pembaharuannya, terutama di bidang
pendidikan. Sebagai penguasa Mesir, ia mengirim orang-orang Mesir untuk
menuntut ilmu ke Eropa, terutama ke Paris. Sementara di Kairo sendiri,
didirikan sekolah-sekolah modern, seperti sekolah militer, teknik, kedokteran, apoteker, pertanian, dll. Sekolah-sekolah
yang didirikan Muhammad Ali ini berorentasi pada pendidikan Barat, dan jauh
dari ruh Islam, karena mengenyampingkan pendidikan Islam. Sementara di Al-Azhar, sebagai benteng pendidikan ke-Islaman, terus
bersikeras pada corak tradisionalnya. Realitas ini menyebabkan adanya dualisme
pendidikan di Mesir.
Pembaharuan dalam bidang pendidikan yang juga menjadi prioritas utama
Muhammad Ali, berorientasi pada pendidikan barat. Ia mendirikan berbagai macam
sekolah yang meniru sistem pendidikan dan pengajaran barat, dari pembaharuan
dalam bidang pendidikan tersebut mewariskan dua tipe pendidikan pada abad ke
20. Tipe pertama sekolah tradisional. Tipe kedua, sekolah-sekolah modern yang
didirikan oleh pemerintah Mesir oleh para misionaris asing. Kedua tipe lembaga
pendidikan tidak mempunyai hubungan sama sekali dan masing-masing berdiri sendiri. Adanya dua tipe pendidikan tersebut juga berdampak kepada munculnya dua
kelas sosial dengan motivasi yang berbeda. Tipe yang pertama melahirkan para ulama dam tokoh masyarakat yang mempertahankan tradisi, sedangkan tipe sekolah kedua melahirkan kelas elit generasi muda yang
mendewakan dan menerima perkembangan dari barat tanpa melakukan filterisasi.
B. Pembaharuan pendidikan Islam Muhammad ‘Abduh
Salah satu proyek terbesar Muhammad ‘Abduh dalam gerakannya sebagai seorang
tokoh pembaharu sepanjang hayatnya adalah pembaharuan dalam bidang pendidikan.
Muhammad ‘Abduh melihat adanya segi-segi negatif
bentuk pemikiran yang muncul dan ia mengkritik kedua corak lembaga pendidikan yang
berkembang di Mesir saat itu. ‘Abduh memandang bahwa jika pola fikir yang pertama tetap di
pertahankan maka akan mengakibatkan umat Islam tertinggal jauh dan semakin
terdesak oleh arus kehidupan modern. Sementara pola fikir yang kedua, Muhammad ‘Abduh melihat bahwa pemikiran modern
yang mereka serap dari barat tanpa nilai “religius” merupakan bahaya yang mengancam sendi agama dan moral. Maka muncul Ide untuk menyelaraskan atau memperkecil dualisme pendidikan ini. Ia berupaya untuk menjadikan dua pola pendidikan tersebut dapat saling menopang demi untuk mencapai suatu kemajuan serta upaya untuk
mempersempit jurang pemisah antara dua lembaga pendidikan yang kelak akan
melahirkan para generasi penerus.
Dalam upayanya membenahi sitem pendidikan terutama di Mesir, Muhammad
‘Abduh mengadopsi pemikiran teman sekaligus mentornya Jamaluddin Al-Afghani. Ia cenderung menggunakan metode –metode yang didasarkan pada filsafat
rasionalis. Pendidikan agama yang berkaitan dengan tauhid dijelaskan dengan
menggunakan pendekatan nalar, seperti yang diperolehnya dari Al-Afghani. Hal ini berbeda jauh dengan metode yang sudah mapan dilakukan di Mesir yaitu metode hafalan.
Muhammad ‘Abduh juga tidak segan-segan memasukkan materi pendidikan Barat
dalam kurikulum dipadukan dengan pendidikan Islam. Sebagai contoh ; ia memasukkan pelajaran Sejarah Kemajuan Eropa dan Prancis karangan Guizot.
Pembaharuan yang dilakukan Muhammad ‘Abduh dalam kurikulum Al-Azhar diniatkan
sebagai contoh bagi perguruan Islam lain di dunia sebab Al-Azhar adalah lambang
pendidikan dunia Islam
Gibb melalui Modern Trends in Islam menjelaskan bahwa menurut Muhammad ‘Abduh ada empat agenda
pembaruan, terutama di bidang pendidikan Islam, yaitu:
1. Purifikasi : Pemurnian ajaran Islam mendapat perhatian serius dari Muhammad ‘Abduh berkaitan dengan munculnya bid'ah dan khurafat
yang masuk dalam kehidupan beragama kaum muslim.
2. Reformasi : Muhammad ‘Abduh, dalam mereformasi pendidikan tinggi
Islam terkonsentrasi pada universitas almamaternya, Al-Azhar. Ia menyatakan
bahwa kewajiban belajar itu tidak hanya mempelajari buku-buku klasik berbahasa
Arab yang berisi dogma ilmu agama untuk membela Islam. Akan tetapi, kewajiban
belajar juga terletak pada mempelajari sains-sains modern, serta sejarah dan
agama Eropa, agar diketahui sebab-sebab kemajuan yang telah mereka capai.
Nurcholish Majid menjelaskan bahwa usaha awal reformasi Muhammad ‘Abduh adalah
memperjuangkan mata kuliah filsafat agar diajarkan di Al-Azhar. Dengan belajar
filsafat, semangat intelektualisme Islam yang hilang diharapkan dapat hidup
kembali.
3. Pembelaan Islam: Muhammad ‘Abduh, melalui Risalah Tauhid-nya tetap mempertahankan
jati diri Islam. Usahanya untuk menghilangkan unsur-unsur asing merupakan bukti
bahwa ia tetap yakin dengan kemandirian Islam. Abduh, terlihat tidak pernah
menaruh perhatian pada paham-paham ateis atau anti agama yang marak di Eropa.
Ia lebih tertarik untuk memperhatikan serangan-serangan terhadap Islam dari
sudut keilmuan.
4. Reformulasi : Agenda ini dilaksanakan Abduh dengan membuka kembali pintu ijtihad. Karena
menurutnya, kemunduran umat Islam disebabkan dua faktor: eksternal dan
internal, yakni kejumudan umat Islam sendiri. Abduh dengan refomulasinya
menegaskan bahwa Islam telah membangkitkan akal pikiran manusia dari tidur
panjangnya, sebenarnya manusia tercipta dalam keadaan tidak terkekang, termasuk
dalam hal berpikir.[2]
Langkah yang ditempuh
Muhammad ‘Abduh untuk meminimalisir kesenjangan dualisme pendidikan adalah
upaya menyelaraskan dan menyeimbangkan antara porsi pelajaran agama dengan pelajaran umum. Hal ini
dilakukan untuk memasukan ilmu-ilmu umum kedalam kurikulum sekolah agama dan
memasukan pendidikan agama kedalam kurikulum modern yang didirikan pemerintah
sebagai sarana untuk mendidik tenaga-tenaga administrasi, militer, kesehatan,
perindustrian. Atas usahanya tersebut, maka didirikanlah suatu lembaga yakni “Majlis Pendidikan Tinggi”.
Dalam pandangan Muhammad ‘Abduh, Islam adalah agama yang rasional. Dengan
membuka pintu ijtihad, kebangunan akal akan dapat ditingkatkan. Ilmu pengetahuan harus dimajukan di kalangan rakyat hingga mereka dapat berlomba
dengan masyarakat Barat. Karena jika Islam ditafsirkan sebaik-baiknya dan difahami secara benar,
tidak satu pun dalam ajaran Islam yang bertentangan dengan ilmu pengetahuan
C. Corak Pemikiran Muhammad Abduh
1. Moderenisasi
Sebagaimana yang telah
disinggung pada latar belakang pemikiran Muhammad Abduh, bahwa semenjak
perjumpaannya dengan Al- Afgani, Abduh berusaha mengadakan penyesuaian ajaran Islam
dengan tuntutan zaman, seperti penyesuaian dengan perkembangan ilmu pengetahuan
dan tekhnologi. Gagasan penyesuaian inilah kemudian disebut dengan
moderniasasi. Sumber dari gagasan moderenisasi Abduh tersebut bersumber dari
penentangannya terhadap taqlid. Menurut Muhammad Abduh, Al-Qur’an
memerintahkan kepada ummatnya untuk menggunakan akal sehat mereka, serta
melarangnya mengikuti pendapat-pendapat terdahulu tanpa mengikuti secara pasti
hujah-hujah yang menguatkan pendapat tersebut, walaupun pendapat itu
dikemukakan oleh orang yang seyogyanya paling dihormati dan dipercaya. Abduh
menetapkan tiga hal yang menjadi kritrea perbuatan taqlid ini, ketiga kriteria
tersebut adalah:
a. Sangat mengagung-agungkan para leluhur dan para guru mereka secara
berlebihan.
b. Mengiktikadkan agungnya pemuka-pemuka agama yang silam, seolah-olah telah
mencapai kesempurnaan.
c. Takut dibenci orang dan dikritik bila ia melepaskan fikirannya serta
melatih dirinya untuk berpegang kepada apa yang dianggap benar secara mutlak.
Berdasarkan pada
pandangan tersebut, Abduh memahami Alqur’an, terutama yang berkaitan denga
kecaman terhadap sikap dan perbuatan taqlid tersebut, walaupun menyangkut sikap
kaum musrikin. Selanjutnya ia mengecam kaum muslimin, khususnya yang
berpengetahuan yang mengikuti pendapat ulama-ulama terdahulu tanpa
memperhatikan hujahnya.
Berkaitan dengan
modernisasi ini, Rahman memberikan pernyataan bahwa seorang modernis biasanya
memiliki beberapa ciri, diantaranya selalu berusaha menghadapi segala situasi
dengan penuh keyakinan serta keberanian, dan gerakannya bersifat kerakyatan,
serta senantiasa melibatkan pemikiran pribadi. Kemudian kaum modernis yang
telah menjadikan reformasi sebagai tolak ukurnya adalah mereka yang berusaha
menciptakan ikatan-ikatan positif antara pemikiran Qur’ani dengan pemikiran
modern.[3]
Perpaduan antara kedua pemikiran ini telah melahirkan beberapa lembaga sosial
dan moral modern dengan berorientasi pada Alqur’an.
Muhammad Abduh
menyikapi peradaban Barat modern dengan selektif dan kritis. Dia senantiasa
menggunakan prinsip ijtihad sebagai metode utama untuk meretas kebekuan
pemikiran kaum muslimin. Abduh tidak pernah berfikir, apalagi berusaha untuk
mengambil alih secara utuh segala yang datang dari dunia Barat. Karena ia
beranggapan apa bila itu dilakukan berarti mengubah taqlid yang lama dengan
taqlid yang baru, juga karena hal tersebut tidak akan berguna, disebabkan
adanya perbedaan-perbedaan pemikiran dan struktur sosial masyarakat
masing-masing daerah. Islam menurut Abduh “harus mampu meluruskan
kepincangan-kepincangan perbedaan barat serta membersihkan dari segi-segi
negatif yang menyertainya. Dengan demikian, perbedaan tersebut pada akhirnya,
akan menjadi pendukung terkuat ajaran Islam, sesaat setelah ia mengenalnya dan
dikenal oleh pemeluk-pemeluk Islam.
2. Reformis
Muhammad Abduh Adalah
seorang pembaharu yang corak pembaharuannya bersifat reformistik-rekonsturktif.
Ini dikarenakan Muhammad Abduh senantiasa melihat tradisi dengan perpektif
membangun kembali. Agar tradisi suatu masyarakat dapat survive dan terus
diterima, ia harus dibangun kembali. Pembangunan kembali ini tentunya dengan
kerangka modern dan prasyarat rasional. Pemikiran pembaharuan yang bercorak
reformistik dalam bentuknya yang pertama secara filosofis. [4]
3. Konservatif
Gerakan pembaharuan
yang diinagurasikan Muhammad Abduh bersifat konservatif, hal ini terlihat dari
sikap Muhammad Abduh yang tidak bermaksud mengubah potret diri Islam. Risalah
Tauhid merupakan bukti dari pemikiran ini. Muhammad Abduh dalam karya ini
berupaya menegaskan kembali potret diri Islam yang telah mencapai finalitas dan
keunggulan.[5]
Demikianlah muncul ke permukaan ketiga tipologi pemikiran, yaitu modernis,
reformis, konservatif, yang dilontarkan berkaitan dengan pembaharuan yang
dilakukan Muhammad Abduh. Ketiganya merupakan refleksi dalam membaca segala
pemikiran Muhammad Abduh. Dalam pembacaan itu corak pertama lebih menekankan
pada aspek slektifitas dan sikap kritis Muhammad Abduh dalam menyikapi dan
memandang peradaban barat. Corak kedua lebih menekankan kepada upaya Muhammad
Abduh dalam membangun kembali tradisi Islam secara rekonstruktif. Sedangkan
corak yang ketiga memfokuskan bacaannya kepada upaya Muhammad Abduh dalam
membela Islam melalui finalitas dan keunggulan Islam.
D. Kiprah Abduh sebagai ulama’ pendidikan serta
Pengaruhnya terhadap ulama al-Azhar.
Sosok Abduh merupakan reformer, keulamaanya tidak bisa diragukan lagi
bahkan dari kalangan intelektual kontemporer dikenal dengan sebutan ulama
modernis.Salah satu karakteristiknya, dia berani menolak adanya dikotomi ilmu
pengetahuan. Hal ini sesuai dengan asumsi bahwa Muhammad Abduh tidak menolak
sistem yang ditawarkan oleh sistem pendidikan barat untuk dijadikan mata rantai
kurikulum yang diterapkan di lembaga-lembaga pendidikan tinggi islam.
Pemikiran Muhammad Abduh sesuai dengan sistem pendidikan pada saat itu,
mewariskan dua tipe pendidikan.Tipe pertama pendidikan formal yang diwujudakan
dalam seperangkat kurikulum mulai dari tingkat dasar sampai ke tingkat atas.
Kurikulum tersebut ialah:
1) Kurikulum al-Azhar
Kurikulum perguruan tinggi al-Azhar disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat
pada saat itu. Dalam hal ini, ia memasukkan ilmu filsafat, logika, dan ilmu
pengetahuan modern ke dalam kurikulum al-Azhar. Upaya ini dilakukan agar output-nya
dapat menjadi ulama modern.
2) Tingkat sekolah dasar
Abduh beranggapan bahwa dasar pembentukan jiwa hendaknya dimulai semenjak
kanak-kanak. Dengan memasukkan mata pelajaran agama sebagai inti semua
pelajaran yang nantinya dapat memiliki jiwa kepribadian muslim. Jiwa
kebersamaan dan nasionalisme yang dapat mengembangkan sikap hidup yang lebih
baik, serta dapat meraih kemajuan.
3) Tingkat atas
Upaya ini dilakukan dengan mendirikan sekolah menengah pemerintah untuk
menghasilkan ahli dalam berbagai lapangan administrasi, militer, kesehatan,
perindustrian, dan sebagainya.
Ketiga paket di atas, merupakan gambaran umum dari kurikulum pelajaran
agama yang diberikan dalam setiap tingkat.Dalam hal ini Muhammad Abduh tidak
memasukkan ilmu-ilmu barat ke dalam kurikulum yang direncanakan. Dengan demikia
dalam bidang pendidikan formal muhammad Abduh menekankan pemberian pengetahuan
yang pokok, yaitu fikih, sejarah islam, akhlak, dan bahasa.
Dalam pendidikan non formal Muhammad Abduh menekankan terhadap usaha
perbaikan (ishlah). Dengan proses pengajaran dan media massa. Ide tersebut di
antaranya:
b. Mewujudkan piawaian dalam penganugerahan sijil.
d. Menyediakan peruntukan gaji guru dari perbendaharaan negara dan waqaf
negara.
Dalam bidang metode pembelajarannya, ia membawa cara baru dalam dunia
pendidikan pada saat itu. Yaitu metode diskusi yang bertujuan memberikan
pengertian yang mendalam pada peserta didiknya serta kegiatan mengajar yang
menekankan pada metode yang berprinsip atas kemampuan rasio dalam memahami
ajaran Islam dari sumbernya yaitu al-Qur’an dan al-Hadits, sebagai ganti metode
verbalisme (menghapal). Sering pula mengajarkan bahasa Arab dengan metode
demonstrasi tentang cara-cara menulis huruf Arab dengan jelas dan
sederhana.
Menekankan pentingnya pemberian pengertian dalam setiap pelajaran yang
diberikan. Ia memperingatkan para pendidik untuk tidak mengajar peserta didik
dengan metode menghafal, karena metode demikian hanya merusak daya nalar,
seperti yang dialami di sekolah farmasi di masjid Ahmadi di Thanta. Semuanya,
harus punya dasar membaca, menulis, berhitung dan harus mendapatkan pendidikan
Agama. Dengan demikian, upaya yang dilakukan untuk Al-Azhar meliputi: 1)
Membentuk dewan pimpinan al-Azhar yang terdiri dari ulama besar dari empat
madzhab, 2) Menertibkan administrasi al-Azhar dengan menentukan honor yang
layak bagi pengajar, membangun ruang khusus untuk rektor dan mengangkat para
pembantu rektor, dan 3) Masa belajar diperpanjang dan masa libur diperpendek.
Bertolak dari posisi ulama pendidikan, Abduh memiliki signifikasi pengaruh
besar terhadap ulama-ulama al-Azhar khususnya, para ulama atau calon para ulama
institusi al-Azhar. Hal ini dibuktikan dengan beberapa kitab yang pernah ia
karang seperti Tafsir al-Manar dan juga aktif menyumbangkan gagasannya
lewat berbagai majalah dan surat kabar, seperti al-Ahram (paris), al-Waqaiq
al-Misriyah (mesir), dan masih banyak lagi karangan beliau yang tidak dapat
disebutkan satu-persatu.
Dari berbagai hasil produk tinta emas (karya dalam bentuk buku) dan sejumlah
majalah dan surat kabar, baik dalam negeri maupun luar negeri, secara bertahap
dia menghasilkan peta perubahan kondisi mesir, baik pemikiran para ulama-nya
maupun para calon ulama-nya di al-Azhar.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Muhammad ‘Abduh adalah sosok
pembaharu Islam abad 19 / 20 yang mengusung rasionalitas dalam beragama. Beliau ingin
menghilangkan kejumudan
dalam pendidikan dengan mendidik akal dan jiwa dengan harapan akan ada
keseimbangan dalam hidup dan mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
Di samping hidup berwibawa dengan
akal yang cerdas, umat Islam juga berperilaku baik yang sesuai dengan ajaran
syari'at. Untuk
mencapai tujuan demikian, maka ia menggagas kurikulum berbasis sains dan
falsafah yang banyak menggunakan akal, dan tanpa meninggalkan
pelajaran-pelajaran yang bersifat agamis.
Pemikiran Muhammad ‘Abduh tentang
pendidikan dinilai telah memberikan pengaruh positif terhadap lembaga
pendididkan Islam sehingga dianggap sebagai awal dari kebangkitan Pendidikan Islam
diawal abad ke-20.
DAFTAR PUSTAKA
1. Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam (Jakarta:
Bulan Bintang, 1992), Cet. IX,
2. Toto
Suharto, Filsafat Pendidikan Islam (yogyakarta: AR-RUZZ MEDIA, 2014),
Cet. 1
3. Suwito dan
Fauzan.2003 Sejarah Pemikiran Para Tokoh Pendidikan. Bandung: Angkasa
4. Toto Suharto, Filsafat
Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Arruzz, 2006),

Tidak ada komentar:
Posting Komentar